Wow! Penolakan Vaksinasi Tertinggi ada di Jakarta, Ini yang Gubernur Anies Lakukan…

oleh -
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menunjukkan grafik saat wawancara di kantornya di tengah wabah penyakit coronavirus (COVID-19) di Jakarta, Indonesia, 17 September 2020. Gambar diambil 17 September 2020. (REUTERS/Yuddy Cahya Budiman)

kataberita.id — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak semua warga Ibu Kota bersedia untuk mengikuti vaksin Covid-19. Sebab, hanya dengan partisipasi tersebut maka kekebalan komunal atau herd immunity bisa terwujud.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan, di atas kertas jumlah penerima vaksin di Jakarta mencapai 8,8 juta orang. Jumlah ini sudah melampaui target untuk mencapai kekebalan komunal.

Rinciannya, sebanyak 8.861.264 juta warga telah menerima dosis pertama atau 99,1 persen dari target. Dan, sebanyak 4.007.949 warga atau 44,8 persen telah menerima vaksin dosis kedua.

Namun, disampaikan Anies, sebanyak 40 persen penerima vaksin bukan pemegang Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta. Hal ini terjadi lantaran Pemprov menetapkan empat golongan penerima vaksin yakni pemegang KTP DKI Jakarta, warga yang tinggal di Ibu Kota namun tidak ber-KTP Jakarta, orang yang tinggal di luar daerah namun bekerja di Jakarta, dan pelajar yang tinggal di luar daerah, namun sekolah atau berkuliah di Jakarta.

Baca Juga :   Disebut Naif oleh Pasha, Giring: Saya Kan Vokalis Nidji Bukan Naif...

“Nah, kami ingin semua warga yang berada di Jakarta tervaksin,” ujar Anies dalam siaran langsung di instagramnya @aniesbaswedan, Jumat (15/8/2021).

Anies mengungkapkan, tantangan untuk mencapai 100 persen vaksinasi yakni adanya masyarakat yang menolak divaksin.

“Hanya kolaborasi antar-warga yang bisa menghentikan ini semua,” rayu Anies.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti menyebut ada sekitar tiga juta warga Jakarta masih enggan mengikuti vaksinasi Covid-19. Karena itu, dia meminta sejumlah pihak untuk aktif mengajak warga agar mau melakukan vaksinasi.

“Ayo bersama ciptakan kekebalan komunal dengan cara vaksinasi,” tegasnya.

Baca Juga :   Duet Anies-AHY di Pilpres 2024, Demokrat-PKS Disarankan Umumkan Segera

Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengingatkan, untuk mencapai herd immunity merupakan proses yang membutuhkan jangka panjang. Karena, berdasarkan standar World Health Organization (WHO), vaksinasi hanyalah salah satu dari tiga variabel untuk mencapai herd immunity.

“Bukan berarti kalau 100 persen sudah divaksin, automatically tercapai herd immunity. Ini bukan variabel tunggal,” jelasnya.

Variabel yang kedua adalah angka reproduksi efektif (Rt) Covid-19. Yakni, tingkat potensi penularan virus. Rt harus di bawah 1. Bahkan, harus sekecil mungkin. Angka Rt dipengaruhi oleh tracing, testing, dan treatment atau 3T . Lalu variabel ketiga, adanya vaksin yang memiliki efektivitas tinggi dalam mencegah penularan.

Dia menilai, Jakarta masih dalam perjalanan panjang untuk mencapai herd immunity. Apalagi, ada potensi munculnya varian baru yang dapat menurunkan efikasi vaksin yang tersedia.

Baca Juga :   Heboh Mural Kritik Jokowi, Netizen Malah Bandingkan dengan Mural Donald Trump Menyerupai Hewan...

“Kalau 96 persen itu mencapai threshold herd immunity. Tapi harus dua kali suntik, bukan satu kali suntik,” imbuhnya.

Tolak Vaksin

Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Maret lalu mengungkapkan persentase tertinggi warga yang menolak untuk divaksin Covid-19 ditemukan di DKI Jakarta (33 persen), Jawa Timur (32 persen), dan Banten (31 persen). Sementara persentase terendah penolakan vaksin ditemukan di Jawa Tengah (20 persen).

“Ini temuan yang mengkhawatirkan mengingat DKI adalah daerah yang yang memiliki tingkat penyebaran Covid-19 tertinggi di Indonesia,” ujar Direktur Riset SMRC, Deni Irvani di Jakarta, akhir Maret lalu.