Opini: Menyoal Pemberitaan Covid-19

oleh -
ilsutrasi kasus covid-19
ilsutrasi kasus covid-19 (via liputan6)

Oleh: Ibrahim Guntur Nuary*

Wabah virus Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan corona, akan masih terus menyerang penduduk bumi dan tidak ada yang tahu kapan virus ini akan benar-benar lenyap dari muka bumi. Bahkan seorang ilmuan yang berkecimpung di bidang virus dan wabah masih belum tahu dan tidak bisa memperkirakan virus ini akan sirna dan hilang. Sebelum memasuki tahun 2021, Indonesia menargetkan awal tahun 2021 virus ini setidaknya bisa mulai menurun dan hilang, apapun tindakan yang harus diambil. Namun nyatanya, corona sempat mengadakan ulang tahunnya yang pertama di bulan maret lalu hingga sekarang.

Bukannya semakin menurun malah semakin banyak orang yang terjangkit virus yang satu ini. Terakhir tercatat sebanyak 33.900 kasus positif dikutip dari detikhealth (3/8/2021) dalam waktu sehari, dan ini merupakan catatan fluktuatif yang memang tidak bisa dikendalikan, bahkan pernah menyentuh angka 50.000 kasus positif dalam sehari. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah sebegitu abainya warga Indonesia menjaga protokol kesehatan sehingga menyebabkan kasus postif selalu naik setiap harinya. Boleh jadi jawabannya antara iya atau tidak karena secara pemberitaan mulai dari Televisi hingga sosial media sudah sangat menggalakkan bahkan memberikan hukuman bagi yang tidak taat terhadap prokes.

Berbicara mengenai pemberitaan Covid-19, sepertinya terlihat agak simpang siur dan hal ini membuat warga awam semakin bertanya-tanya mana berita yang harus dipercaya dan dipegang seutuhnya. Contoh kasus yang pertama adalah hadirnya seorang dr. Louis yang mengklaim bahwa orang yang meninggal di rumah sakit bukan disebabkan Covid-19 melainkan disebabkan oleh interaksi obat. Suatu pertanyaan yang sangat mencengangkan, karena di sisi lain semua orang percaya adanya Covid-19 namun ada seorang dokter yang tidak percaya sama sekali.

Setelah pertanyaan itu dilontarkan, inews.id (17/7/2021) membuat berita tentang revisi obat Oseltamivir dan Azitromisin yang tidak lagi diberikan kepada orang yg dirawat di rumah sakit. Hal ini menjadi pertanyaan banyak pihak terlebih bagi orang awam yang tidak paham mengenai obat-obatan, walaupun sempat disinggung pergantian obat ini karena digunakan untuk pengobatan influenza tipe A dan B. Jadi jika ada indikasi positif covid 19 namun terinfeksi virus influenza, maka obat ini akan diberikan.

Baca Juga :   Asyik! BLT Rp 600 Ribu Akan Cair, untuk Karyawan Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan

Dari kedua pemberitaan diatas antara interaksi obat dan pergantian obat menimbulkan kecemasan di masyarakat dan bahkan untuk segelintir orang takut masuk rumah sakit jika terjangkit virus corona. Mereka akan memilih untuk isolasi mandiri di rumah dengan menerapkan protokol kesehatan dan juga menjaga asupan gizi yang baik. Namun tidak semua orang dapat melakukan itu, karena tidak semua orang mempunyai tingkat ekonomi yang baik. Hal yang terpenting adalah jika terjangkit maka diharuskan untuk berjemur, itu adalah salah satu aktivitas menghilangkan corona di dalam tubuh.

Pemberitaan Vaksin dan Kepercayaan Publik

Pemberitaan lainnya adalah mengenai vaksin, yang kita ketahui bahwa vaksin di Indonesia ada dua jenis yaitu Sinovac dan AstraZeneca. Awal kedatangannya adalah vaksin Sinovac lalu disusul oleh vaksin AstraZeneca. Adanya vaksin tersebut nampaknya membuat angin segar bagi masyarakat Indonesia dan banyak juga yang beranggapan bahwa setelah vaksin akan kebal dari virus korona, namun nyatanya tidak demikian. Vaksin hanya mencegah penularan bukan menyembuhkan ataupun tidak akan tertular lagi setelah vaksin. Lalu pertanyaannya besarnya yang mencuat di tengah masyarakat adalah untuk apa vaksin jika tidak bisa menyembuhkan. Ini pemikiran yang salah, karena secara lugas penjelasan di atas adalah bahwa vaksin hanya mencegah percepatan penularan, misal yang tadinya tingkat penularan 50% maka setelah vaksin akan dicegah hingga 85% ke atas. Begitulah penjelasan mudahnya.

Baca Juga :   Gubernur Anies Pimpin Apel Darurat, Kasus Covid-19 di Jakarta Makin Mengkhawatirkan

Namun yang terjadi sekarang, ada beberapa pemberitaan setelah melakukan vaksin ada yang meninggal dunia di hari itu setelah vaksin. Hal ini yang membuat masyarakat awam takut vaksin mendengar dan membaca pemberitaan vaksin yang mengancam nyawa. Terakhir pemberitaan meninggal sehabis vaksin terjadi di Jakarta timur, yang menjadi korban adalah Trio Fauqi Virdaus yang dikutip dari detikhealth (03/08/2021). Trio melakukan vaksinasi dan keesokan harinya meninggal dunia, sebelum meninggal memang beliau merasakan efek samping setelah vaksin seperti meriang, pusing, dan tidak enak badan. Namun, makin parah hingga meninggal dunia.

Para dokter yang melakukan autopsi menemukan kelainan yang ada di paru-paru Trio namun tidak menjadi bukti kuat meninggalnya Trio. Butuh waktu lama untuk melakukan autopsi lebih lanjut dikarena jasad Trio yang semakin membusuk. Memang pada prakteknya sebelum melakukan vaksin maka akan dicek mengenai kesehatan tubuh seseorang dan orang yang ingin vaksin harus jujur kepada tim medis jika ada penyakit atapun lainnya yang bisa menyebabkan efek parah setelah vaksin. Biasanya bagi penderita darah tinggi dengan kisaran yang sudah ditentukan oleh tim medis maka ada yang boleh dan juga tidak boleh untuk vaksin.

Walaupun demikian pemberitaan setelah vaksin lalu ada yang meninggal dunia membuat masyarakat menjadi was-was dan juga takut untuk melakukan vaksin. Bahkan beberapa instansi menggalakkan vaksin agar target vaksinasi seluruh Indonesia terpenuhi. Hal ini jika ada desakkan dari pemerintah mengenai vaksin maka akan menjadi ketakutan yang semakin menjadi-jadi, di satu sisi jika tidak vaksin tidak akan bisa bekerja tapi jika vaksin ada kecemasan meninggal dunia. Namun kabar gembiranya memang tidak begitu banyak orang setelah vaksin meninggal dunia tapi memang nyatanya ada. Solusi terbaiknya adalah sebelum melakukan vaksin, pantau kesehatan diri dan pastikan dalam kondisi bugar, agar tidak terjadi kasus meninggal dunia karena vaksin. Meskipun juga belum ada kepastian seseorang meninggal setelah vaksin diakibatkan oleh vaksin itu sendiri. Jadi pada intinya harus sadar diri mengenai kesehatan sebelum vaksin, sedikitnya akan mempengaruhi setelah vaksinasi.

Baca Juga :   Gubernur Anies Akan Beri Sanksi Bagi Pelanggar Aturan PPKM: Anda Masuk dalam Blacklist...

Pemberitaan mengenai Covid-19 atau corona masih terbilang simpang siur, apalagi pembahasannya agak sulit dicerna oleh masyarakat. Kini masyarakat terbelah menjadi dua kubu, ada yang percaya Covid-19 memang benar ada, ada juga yang tidak percaya sama sekali dan terkesan abai terhadap protocol Kesehatan. Hal ini yang harus segera dibenahi oleh pemberitaan yang satu arah, dalam artian tidak boleh adanya kesimpangsiuran pemberitaan yang membuat masyarakat terbelah menjadi dua kubu dan bahkan cenderung tidak percaya sama sekali. Akibat dari berita yang tidak jelas, masyarakat lebih percaya berita dengan diikuti “Katanya begini begitu” dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, pemberitaan yg akurat harus segera disajikan agar masyarakat tidak punya perspective yang berbeda satu dengan lainnya. Ini menjadi tugas negara untuk menyatukan seluruh pikiran masyarakat agar tidak takut menghadapi pandemi Covid-19 dan juga masyarakat harus percaya bahwa Covid-19 benar-benar ada dan yang terakhir adalah bahwa vaksin memang aman dan sehat. (kataberita/icn)

*Ibrahim Guntur Nuary adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indraprasta PGRI dan Wisudawan Berprestasi IAIN Syekh Nurjati Cirebon Tahun 2018

Disclaimer: Tulisan yang berjudul “Menyoal Pemberitaan Covid-19” oleh Ibrahim Guntur Nuary adalah artikel kiriman dari pembaca kataberita.id. Hal yang terkait dengan Judul dan Isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis.

Editor: Ihsan Subhan