Memaknai Puasa sebagai Jalan Keadaban

oleh -
Muhammad Ali Ridho
Muhammad Ali Ridho

Oleh: MUHAMMAD ALI RIDHO

Oleh sebab itu, dalam kehidupan berbangsa, puasa mampu melejitkan manusia pada hidup yang sudah terbebaskan dari hasrat-hasrat partikular demi sesuatu yang universal. Puasa juga memantik gelora optimisme hingga bermuara pada kemaslahatan. Soekarno, Mohammad Hatta, Natsir, Sjahrir, Tan Malaka menjadi reprsesentasi dari hal tersebut. Herosime yang mereka bangun bukan semata untuk golongannya melainkan untuk “kemerdekaan”  bangsa ini karena berhasil memupus nafsu primitif dalam dirinya.

Puasa adalah ritual yang esoteris. Menyimpan keheningan dan kerahasiaan yang hanya diketahui oleh diri seorang hamba dan Tuhannya. Di balik kerahasiaan itu, terbentang jalan keadaban yang semata-mata bermuara pada hakikat pertemuan antara “yang profan” dengan “yang sakral”. Namun, pada kenyataannya, puasa dalam narasi kebangsaan hanya menjadi ritual periodik dan formalistik tanpa memercikkan konsekuensi etis yang bisa mengeluarkan bangsa ini dari sekapan hal-ihwal yang problematis.

Tak pelak, sebagai bulan yang Istimewa, puasa dimeriahkan dengan gegap-gempita dan semarak. Semuanya menjadi serba religius. Iklan-iklan dan acara di televisi tampil dengan balutan Islami. Alih-alih menawarkan kesegaran batiniyah justru terperosok dalam nalar konsumtif. Budaya popular telah menggiring manusia pada ilusi dan kesemantaraan. Di mana “kebenaran” diekspos secara kamuflatif sehingga sulit dicari differensiasi antara substansi dan ilusi yang dapat menjatuhkan kita pada lubang hedonisme.

Padahal, puasa merupakan ritual untuk memerdekakan diri dari nafsu-nafsu primitif yang cendrung destruktif. Dalam istilah Al-Ghazali disebut dengan nafsu amarah (an-nafs al-ammarah) Egoisme yang meluap-luap telah menjatuhkan manusia pada sikap acuh terhadap etika universal dan kian menjauhi dari jalan kebijaksanaan. Kepentingan individual dikedepankan dan kepentingan kolektif disisihkan.

Lapar yang mendera selama menjalankan ibadah puasa mengakibatkan dua implikasi yang perlu dimaknai. Pertama, implikasi vertikal, selama kita menjalankan puasa semula harus diniatkan semata demi pengabdian dan kecintaan makhluk kepada Sang Pencipta. Sehingga dalam diskursus sufisme, kelaparan fisik terkalahkan oleh kelaparan ruhani yakni kerinduan akan kanyataan Absolut. Kedua, implikasi horizontal, dalam artian rasa lapar itu menjadi refleksi bagi kita untuk juga merasakan rasa lapar sebagaimana  yang diderita orang-orang miskin.

Dalam sebait hadistnya, Nabi SAW bersabda: Innas syaithan yajri fi ibni Adam majrad dam. Fadhayyiqu majarihi bil ju’i (Sesungguhnya setan mengalir di dalam diri anak cucu Adam mengikuti aliran darah, persempitlah aliran setan itu dengan kelaparan). Kelaparan yang dimaksud Nabi itu jika diinterpertasikan ialah dilalui dengan berpuasa. Menahan hawa nafsu fisik termasuk cara efektif menghilangkan sikap predatorik yang berjangkar dalam diri ini. Karena nafsulah yang menggiring manusia pada batas kehancurannya.

Jalan keadaban

Dalam puasa, terselip nuansa keimanan yang berderivasi dalam bentuk laku, sikap dan keluhuran budi. Kontemplasi dan refleksi menjadi titik pacu untuk membentangkan semua itu dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang kian kemaruk. Epidemi problem kebangsaan yang terus menggilas kebenaran telah menjauhkan bangsa ini dari hakikat amanat kemerdekaan yang digagas para founding father.

Monoteisme dalam prinsip berbangsa-bernegara kian pupus oleh “moneyteisme”, uang di jadikan tujuan hidup. Syahwat politik yang tak terbendung memunculkan persoalan-persoalan sistematis yang berakibat katastrofik bagi eksistensi bangsa ini. Manusia kemudian menjelma sosok Leviathan Hobbesian yang siap melumat siapa saja, menjadi pemangsa bagi sekawanannya (homo homini lopus) demi uang, demi populeritas, demi kekuasaan.

Sayyed Hoessein Nasr (1998) berasumsi bahwa kehidupan yang dilandasi kebaikan tidak bertumpu pada materi melainkan spiritualitas. Melalui spiritualitaslah manusia akan menemukan jalan keadabannya. Muhammad berkhalwat di Gua Hira, meninggalkan kemaruk material dan meningkatkan laku spiritual hingga ahirnya mendapat mukjizat berupa Al-Qur’an. Siddhartha menjauhi gemerlap kekuasaan dan memilih pergi ke belantara dan bertapa di bawah pohon Bodi hingga ahirnya mendapat pencerahan batin. Laku spiritual telah membebaskan manusia dari belenggu materi.

Melalui puasa, kita diajarkan untuk melakukan migrasi spiritual sembari menampik gemilang materi. Bahkan dalam peristiwa pertempuran tidak seimbang antara Talut dan Jalut telah memutarbalikkan fakta. Talut yang lemah keluar sebagai pemenang. Saat ditanya tentang heroisme-kemenangannya, Daud sebagai salah seorang pahlawannya menjawab : “berpuasa satu hari. Tidak satu hari” (Asep Salahuddin: 2012).

Oleh sebab itu, dalam kehidupan berbangsa, puasa mampu melejitkan manusia pada hidup yang sudah terbebaskan dari hasrat-hasrat partikular demi sesuatu yang universal. Puasa juga memantik gelora optimisme hingga bermuara pada kemaslahatan. Soekarno, Mohammad Hatta, Natsir, Sjahrir, Tan Malaka menjadi reprsesentasi dari hal tersebut. Herosime yang mereka bangun bukan semata untuk golongannya melainkan untuk “kemerdekaan”  bangsa ini karena berhasil memupus nafsu primitif dalam dirinya.

Dalam laku spiritual, sebenarnya yang dikehendaki ialah bertautnya manusia sebagai mikrokosmos dengan Tuhan sebagai maksrokosmos. Maka puasa, bukan sekedar menahan lapar, dahaga dan libido seksual tetapi yang lebih penting ialah keikhlasan dalam penghambaan. Sehingga apabila hal tersebut diinternalisasi dengan benar akan mewujud laku yang penuh dengan keadaban sesuai dengan misi Islam yaitu membawa rahmat bagi semesta alam. Marhaban ya syahra as-siyam. (**)