Heboh! Mucul Awan Bentuk Payudara di Langit Sinjay Sulsel, Pertanda Apa?

oleh -
awan-payudara
Penampakan awan Mammatus atau awan payudara (ist. via tribunnews)

kataberita.id — Langka terjadi, kini fenomena kemunculan awan Mammatus hebohkan warga Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan pada Jumat (2/4/2021). Mammatus adalah bahasa latin dari mamma alias puting atau payudara.

Ciri khas penampakan awan Mammatus yang berasal dari awan Cumulonimbus (CB), serupa dengan gelembung air yang berjajar secara berurutan. Namun dalam hal ini, terjadi pada permukaan udara tepatnya lapisan awan CB itu sendiri.

Koordinator Data dan Informasi BMKG Sulsel Hanafi Hamsah mengatakan, bahwa awan Mammatus merupakan bagian dari awan Cumulonimbus atau jenis awan yang sering dihubungkan dengan hujan lebat dan kejadian ekstrem.

Pembentukannya, kata Hanafi berasal dari awan CB yang sedang dalam fase berkembang. Karena setelah Cumulinumbus terbentuk, akibat dari aktifnya proses konveksi (pergerakan ke atas-ke bawah udara basah dalam CB, menjadikan CB makin tumbuh membesar) di dalam CB.

“Sehingga dasar awan Comulonimbus yang awalnya relatif halus terdorong-dorong oleh proses konveksi tadi dan menjadikan dasar anvil awan membentuk tonjolan,” ungkap Hanafi dikutip dari era.id, Sabtu (3/4/2021).

Lebih lanjutnya, Hanafi Hamsah menuturkan secara ilmial awan Mammatus memang sering digunakan oleh para ahli. Namun, terkait julukan atau sebutan awan Mammatus yang di kait-kaitkan dengan payudara kaum hawa itu sendiri, hanya sebutan masyarakat yang ada di Indonesia.

“Secara ilmiah, nama awan itu memang awan Mammatus. Kami kurang tahu penamaan (masyarakat) awan tersebut di daerah-daerah di Indonesia,” akunya.

Berdasarkan pengalaman BMKG, awan Mammatus sering muncul di dasar awan CB. Disebutkan, awan CB adalah pertanda akan munculnya hujan lebat atau kejadian ekstrem.

“Awan ini muncul di dasar awan Cumulonimbus, di mana awan Cumulonimbus sendiri merupakan awan yang dapat mengakibatkan hujan lebat, kilat, petir, dan angin kencang.” bebernya.

Berdasarkan pantauan satelit di udara sekitar Sulawesi Selatan, BMKG memantau tidak melihat pertanda akan munculnya awan Comulonimbus atau pertanda akan terjadinya hujan lebat disertai angin kencang.