Heboh! Puisi “Renungan Karma” Buat SBY, Isinya Menusuk…

oleh -
Susilo Bambang Yudhoyono (ist.)
Susilo Bambang Yudhoyono (ist.)

kataberita.id, JAKARTA — Puisi Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertajuk ‘Kebenaran dan Keadilan Datangnya Sering Terlambat, Tapi Pasti’ mendapat respons seantero jagat maya. Bahkan, kini muncul puisi tandingan yang dibuat oleh Divisi Komunikasi Publik Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), Bobby Triadi.

Puisi berjudul Renungan Karma Buat SBY tersebut diunggah di kanal YouTube KOMATKAMIT dan di komat-kamit.id pada Jumat (19/3/2021).

Pantauan kataberita.id, dalam keterangan di kanal YouTube itu, disebutkan bahwa KOMATKAMIT dibuat khusus orang-orang dewasa, dewasa pikiran, dewasa hati dan tidak baperan.

“Selamat datang di Channel YouTube yang nonjok akal sehat, waras dan menghibur. Di KOMBUR kali ini, saya Bobby Triadi hanya ingin mengirimkan puisi buat Pak SBY. KOMATKAMIT YouTube Channel dibuat khusus orang-orang “dewasa”, dewasa pikiran, dewasa hati dan tidak baperan.” Tulis kanal youtube KOMATKAMIT, dikutip kataberita.id

Berikut puisi karya Bobby Triadi tersebut:

Baca Juga :   Politisi PDIP Dewi Tanjung, Sindir Pedas AHY: Anak Manja Sok Mendikte Pemerintah

PUISI “RENUNGAN KARMA” BUAT SBY

Malam itu kau melihat cikeas bagai kota mati. atau seperti dusun kecil yang terbentang di kaki bukit yang sunyi. suasana sungguh mencekam, hening dan sepi. Ah, itu hanya perasaan saja.

Malam ketika kau membuka jendela tua itu, malam yang tanpa gemerlap bintang seperti masa lalu. Tak ada lagi cahaya rembulan yang mendampingi, tak ada lagi gemerlap bintang.

Deras hujan pujian dimasa jaya, pun telah pergi. Kini tinggal derak degub jantung yang terdengar lirih. Akankah malam-malam yang akan datang, akan menjadi malam yang sama?

Aku tau, aku tau tanpa perlu kau katakan dengan nada lirih. Tentang mata yang sulit terpejam. tentang hati yang terus terjaga dan tentang pikiran yang terus mengembara. Hingga kursi coklat tua itu memanggil.

Cobaan adalah karma. Bukan cobaan yang datang tanpa sebab. Mengapa karma menghampiri mu hari-hari ini? Apa yang telah kau perbuat dan lakukan terhadap sahabat, sahabat yang dulu, memanggul tubuh besar mu menuju masa-masa kejayaan itu?

Apa yang telah kau perbuat kepada mereka-mereka, yang hingga kau hari-hari ini merasakan luka? Dan kenapa perih luka itu juga harus anak-anak mu rasakan? Kenapa karma mu harus dirasakan oleh anak-anak mu, menantu-menantu mu dan cucu-cucu mu?

Tangkapan layar kanal youtube KOMATKAMIT

Aku tau, kau tak ingin mereka merasakan perihnya luka karena karma mu. Sebenarnya, aku tak hendak meratap seperti mu. Aku juga anak kampung yang dibesarkan penuh dengan tantangan. Jauh dari kecukupan dan kemudahan.