Akhir Pekan, Piringan Hitam dan Airlangga Hartarto

oleh -

Oleh: Khalid Zabidi

kataberita.id — Piringan hitam bagi sebagian orang adalah barang kuno ketinggalan zaman, selain sudah banyak kemajuan teknologi baru pemutar musik piringan hitam juga sudah jadi barang langka.

Sejarah mencatat piringan hitam (Vinyl Record) dipatenkan pertama kali oleh Leon Scott 1857 yang kemudian berkembang pada masa 50 dan 60an sebelum era pita kaset (cassete) muncul.

Di era Indonesia merdeka, ada 2 produsen piringan hitam pertama, Lokananta atau lengkapnya Pabrik Piringan Hitam Lokananta Jawatan Radio Kementerian Penerangan RI yang dirintis oleh 2 orang, Oetojo Soemawidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero di Solo tahun 1956 dan Irama di Menteng Jakarta pada tahun 1954 milik Suyono Karsono (tutup tahun 1967). Mereka sempat mengisi dan merasakan era keemasannya pada tahun 60an hingga 70an yang akhirnya kemudian redup.

Baca Juga :   Airlangga : Hanover Messe, Ajang Pameran Teknologi Manufaktur Terbesar di dunia Akan Segera Hadir

Piringan hitam walaupun sudah kuno namun belakangan piringan hitam kembali ngehit atau populer di kalangan pecinta musik. Selain kualitas suara yang bagus juga sebagai barang koleksi berharga.

Tidak ketinggalan, Airlangga Hartarto yang tampak asyik berjaket hitam memilih koleksi piringan hitam di sebuah toko di Blok M Plaza, paperpotrecord sebuah toko piringan hitam menjadi pilihannya, tampak sore itu Airlangga mengisi akhir pekan awal Januari 2021 bersama istrinya, Yanti Airlangga.

Baca Juga :   Aduh, Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Minus 5,32%, Target Airlangga & Sri Mulyani Tak Sesuai

“Koleksi saya belum banyak, masih memburu piringan hitam lama tahun 80an dan 90an,” jelas Airlangga disela-sela malam minggu bersama keluarga.

Setelah memilih beberapa piringan hitam yang dipandu staff toko kemudian Airlangga atau banyak dipanggil dengan AH mencoba memutar piringan di gramofon untuk mengecek kualitas suaranya, tampak para staff toko semua adalah anak-anak muda. Mereka tidak canggung sama sekali bahkan terlihat ahli dengan piringan hitam dan alat pemutar yang mungkin umurnya jauh di atas umur mereka sendiri.

Album pop piringan hitam pertama di Indonesia berjudul Sarinande pada tahun 1956 oleh Band The Progressif yang di gawangi oleh Nick Mamahit sang pianis, sebuah album dengan lagu beraliran jazz.

Baca Juga :   Menko Perekonomian Bersama Pejabat-pejabat Terkait, Menandatangani Nota Kesepahaman Elektronik Transaksi Pemda (ETP)

Beberapa tahun belakangan, grup- grup musik Indonesia juga memproduksi album musik mereka pada permukaan vinyl atau piringan hitam, antara lain, d’Masiv, Naif, SID, Sore, Pandai Besi, Maliq& Essential, Mocca, White Shoes&Couples Company, Seringai, The S.I.G.I.T dan The Brandals. Selain suara yang bagus, klasik rekaman pada piringan hitam sulit untuk di bajak dan albumnya menjadi barang koleksi karena diluncurkan dengan jumlah terbatas.