KPA: RUU Cipta Kerja Menjadikan HGU Berumur 90 Tahun, Lebih Parah Dibanding Masa Penjajahan

oleh -
Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika
Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika (foto: istimewa)

kataberita.id — Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika mengkritisi ketentuan jangka waktu hak atas tanah di atas hak pengelolaan dalam draf omnibus law Rancangan Undang-Undang (RUU) Cipta Kerja.

Berdasarkan Pasal 127 ayat (3) hak pengelolaan diberikan selama 90 tahun. Hal pengelolaan ini dapat diberikan hak guna usaha ( HGU), hak guna bangunan ( HGB) dan hak pakai (HP).

Baca Juga :   Indonesia Resmi Resesi, Wakil Ketua MPR: Pemerintah Harus Perbaiki Ekonomi Tanpa Mengorbankan Rakyat

Sedangkan, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) telah mengatur bahwa jangka waktu HGU diberikan selama 25 atau 35 tahun kepada pemohon yang memenuhi persyaratan.

“Pada masa penjajahan saja pemberian konsesi pada perkebunan Belanda hanya 75 tahun,” ujar Dewi saat dihubungi Kompas.com, Senin (10/8/2020).

“Sekarang RUU Cipta Kerja mau menjadikan HGU berumur 90 tahun, lebih parah dibanding saat kita masih dijajah,” ungkapnya.

Baca Juga :   Pimpinan Sidang Paripurna UU Ciptaker Azis Syamsuddin, Akui Belum Baca Detail UU Cipta Kerja

Selain itu, Dewi juga menyoroti kewenangan pemerintah pusat yang bisa menerbitkan jenis-jenis hak baru di atas hak pengelolaan.

Sebab, hak pengelolaan dapat dikonversi menjadi HGU, HGB dan HP bagi kepentingan pemodal. Menurut Dewi, ketentuan ini merupakan bentuk penyimpangan Hak Menguasai dari Negara (HMN) dan berpotensi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).

Baca Juga :   Wakil Ketua MPR Syarief Hasan Dorong Pengajuan RUU Perlindungan Pelajar Indonesia di Luar Negeri

“Tiba-tiba dengan dalih menciptakan norma baru, hak pengelolaan ini seolah menjadi jenis hak baru yang begitu powerful, yang kewenangannya diberikan kepada pemerintah,” tutur dia.

Jika ketentuan soal hak pengelolaan atas tanah tersebut disahkan, Dewi khawatir ketimpangan penguasaan tanah akan semakin besar.

No More Posts Available.

No more pages to load.