Partai Solidaritas Indonesia Akui Ditawari Uang Hampir 1 Miliar, untuk Tentang Gibran Maju Pilkada Solo

oleh -
Gibran Rakabuming
Gibran Rakabuming (foto: istimewa)

“Ada nominal yang ditawarkan. Dan ini menurut kami tanda petik tersanjung sebagai pendatang baru di dunia politik. Pencapaian kami ternyata ada harganya. Nilainya fantastis, di luar dugaan mendekati Rp 1 miliar,” ujar dia.

Yogo menyebut, bahwa parpol yang menawarinya untuk meloloskan pasangan penantang Gibran-Teguh tidak memiliki kursi di parlemen. 

Meski demikian, Yogo enggan menyebut parpol itu. Yogo mengatakan, sudah berkoordinasi dengan DPP PSI terkait tawaran tersebut.

“Saya langsung komunikasikan dengan Sekjen DPP PSI. Kami tidak akan pernah berkoalisi dengan PKS di pemilihan kepala daerah manapun. Dan sampai sekarang masih kami pegang,” ujar dia.

Baca Juga :   Ternyata Ini Alasannya, Polri Tak Usut Kasus Kerumunan Gibran di Solo?

Dari hasil komunikasi dengan DPP PSI, lanjut Yogo, PSI dari awal konsisten untuk memberikan dukungannya kepada Gibran di Pilkada Solo 2020.

“PSI masih istiqomah dengan Mas Gibran. Solo sampai saat ini untuk calon yang kuat kemudian punya visi ke depan, punya semangat membangun kota, PSI di Mas Gibran,” ujarnya.

Terpisah, Achmad Purnomo mengatakan, dirinya tidak tahu-menahu dengan adanya wacana pencalonan tersebut. “Saya tidak mengerti apa-apa,” ujar Purnomo.

Baca Juga :   Duh PSI Turut Tergugat, Ini Penjelasan Hadi Pranoto Gugat Muannas Alaidid Rp 150 Triliun

Pria yang kini menjabat Wakil Wali Kota Solo itu menegaskan belum menentukan langkah politik setelah dirinya tidak mendapat rekomendasi dari DPP PDI-P.

Dirinya juga tidak ingin berandai-andai kendati masih ada peluang untuk mencalonkan diri melalui pertai politik (parpol) lain.

“Jangan mengandai-andai. Dari dulu meleset terus. Udah diusulkan pengurus cabang saja meleset kok. Sekarang berandai-andai lagi jangan,” ucap Purnomo.

Sementara itu, Anung Indro Susanto mengatakan, dirinya tidak merasa keberatan namanya disebut dalam wacana pencalonan berpasangan dengan Purnomo.

Baca Juga :   Gubernur Anies Sebut Air Harus 'Ditarik’, Politisi PSI: Bersabarlah Omongan Konyol Ini

Dia menilai pencatutan nama tersebut merupakan hal wajar dalam kontestasi pesta demokrasi lima tahunan.

“Biasa saja kondisi seperti ini. Atmosfer mau Pilkada kan biasa seperti itu. Saya kan pernah ikut namanya kontestasi politik (tahun 2015),” kata mantan Kepala Bapermas PP PA dan KB Solo itu.

“Biasa seperti itu, namanya politik berkembang, dinamis. Itu ada dinamika di masyarakat.” (kompas TV/kataberita)

No More Posts Available.

No more pages to load.