Menyedihkan, Kisah Guru Honorer Digaji Hitungan 180 Ribu Per Bulan, Tapi Masih Semangat Kunjungi Rumah Siswa untuk Mengajar

oleh -
Guru Honorer Suardi tengah mengajar keliling di rumah siswa saat pandemi corona
Guru Honorer Suardi tengah mengajar keliling di rumah siswa saat pandemi corona (foto: kompas)

kataberita.id — Seorang guru honorer bernama Suardi (29) di SD Negeri Lanyying, Kecamatan Uluere Bantaeng, Sulawesi Selatan, rela mengunjungi rumah siswa didiknya selama pandemi corona untuk mengajar.

Hal itu ia lakukan sudah sejak bulan Maret hingga saat ini bersama dengan guru lainnya di sekolah tersebut. Alasannya, karena tidak semua siswa didiknya memiliki smartphone untuk mengikuti aktivitas belajar secara daring seperti yang diinstruksikan pemerintah.

Meski dengan katerbatasan yang ada, lelaki asal Banyorang Bantaeng ini tetap semangat untuk mengabdi. Untuk mendatangi rumah siswanya di daerah terpencil itu, Suardi mengaku setiap hari harus naik angkutan umum dan dilanjut dengan jalan kaki sejauh satu kilometer.

Baca juga :   Ma'ruf Amin di Mana? Jokowi Pusing Tangani Corona

“Jadi kalau berangkat saya naik mobil angkutan umum. Dalam sehari mendatangi tiga rumah siswa. Setelah selesai mengajar di rumah siswa yang satu, selanjutnya jalan kaki sekitar satu kilometer ke rumah siswa lainnya,” katanya saat dikonfirmasi, Kompas.com, Jumat (31/7/2020).

Suardi mengatakan, rela menekuni pekerjaan itu bukan karena gaji, melainkan hanya untuk mengabdi dan ingin membantu mencerdaskan siswa didiknya yang berada di wilayah terpencil tersebut.

Baca juga :   800 Pegawai Kontrak Garuda Dirumahkan Sementara, Ini Alasan dari Bosnya

Gaji dan kondisi yang memprihatinkan Suardi mengatakan, selama lima tahun menjadi guru honorer di sekolah itu, ia hanya mendapat gaji sebesar Rp 430.000 per tiga bulan.

Namun belakangan, ia bersyukur karena gajinya naik. Sehingga dengan kenaikan gaji itu dapat membantu memenuhi kebutuhannya meski sebenarnya jauh dari kata cukup.

“Dulu saya terima gaji 430.000 per tiga bulan. Dan alhamdulillah sudah naik Rp 720.000 per empat bulan,” tuturnya.

Baca juga :   Seniman Tantang Hirup Mulut Pasien COVID-19, Demi Membuktikan Sudah Tidak Ada Lagi Corona

Untuk menghemat biaya selama melakukan kunjungan ke rumah siswanya itu, tak jarang ia tidur di rumah rekannya yang berada di lokasi tersebut.

Selama lima bulan melakukan kunjungan ke rumah siswa didiknya itu, Suardi merasa sangat prihatin dengan kondisi mereka.

Sebab, meski sudah pulahan tahun Indonesia merdeka, namun akses jalan menuju rumah mereka masih sangat rusak dan sulit dijangkau.

Jangankan jaringan internet, bahkan aliran listrik dari PLN diketahui baru masuk tahun ini. (kompas/kataberita)