Puisi Maulidan Rahman Siregar

oleh -
Maulidan Rahaman Siregar
Maulidan Rahaman Siregar

BURUNG BAPAK DEDY

burung bapak dedy
sepanjang puisi
yang ia tulis
agar tidak menangis
ketika mati

burungnya, asal kau tau
bisa lebih panjang lagi
dari mati itu sendiri

pernah bapak dedy
menulis burungnya
dan saya kaget

sebab burungnya selalu
berdiri

di banyak puisi

anunya berdiri ketika baca puisi
dia terus baca puisi
sampai selesai seluruh puisi
anunya masih berdiri

2019

TARUNG

selamat datang di bumi Pasaman
bumi yang aman, untuk menggantung
ayah, bila tak lekas mencari untung
pada batang tubuh

Baca Juga :   Puisi Sahaya Santayana

selamat datang, hai selamat datang
doa ibu tercecer antara Rao dan
Bukittinggi, masak seluruh
di rimbo panti, ia tidak menakut-nakuti:

buaya putih bagi si gadis
harimau lapar buat si abang
diantar jauh ke Sidempuan

singgahlah ke perhentian ALS,
family, almas, dan padang lawas,
di rumah makan minang yang
penjualnya punya marga dan
senjata; buaya putih rimbo panti!

bila panjang umurmu, main ke Balakka
di sana, di warung kopi jam 9 pagi
kau diantarnya lagi ke Pasaman

Baca Juga :   PUISI : Zetira Regi Tilafa

buaya putih dan harimau lapar
yang telah menerkam banyak ayah
yang hilang di hutan nafkah

jangan sekali-kali menyebut aduh ngeri
ketika melihat; selamat datang, pasaman

2019

ILUSI

seorang penyair mati
di dalam puisi ini

ceritanya begini:

penyair kita sudah bikin
buku puisi paling bagus
di bumi, setiap orang
yang menegurnya, tak ia
sapa, ia sibuk melihat
lembar demi lembar puisi
di bukunya tersebut

kemudian ia ingin menjadi
pohon, agar kertas demi
kertas selalu punya tempat
menampung sejuta puisinya

Baca Juga :   Revolusi Industri 4.0 dan Komunal Sastra di Era Milenial

pada puisi ke sembilan ratus
sembilan puluh ribu sembilan
ratus sembilan puluh sembilan,
ia menyadari, kalau sembilan
ratus sembilan puluh ribu sembilan
ratus sembilan puluh sembilan
puisi yang ia tulis jelek semua

dan ia punya rencana jadi pohon
betulan, agar senantiasa ditebang
orang-orang untuk siapa saja
yang kebetulan penyair maupun
bukan untuk menulis puisi
paling bagusnya

hai, kamu
bagaimana? sudah menulis
hari ini?

2019

*Maulidan Rahman Siregar, suka bikin arsip. Belum gemar membaca dan menulis. Tidak terlalu suka kucing.