Cerpen: Cap Kampung Maksiat

oleh -
Romi Afriadi
Romi Afriadi

Oleh: Romi Afriadi

Jauh sebelum bangunan itu ada, sebuah lapangan bola berada di situ, dan menjadi sarana bermain para pemuda. Tapi keputusan pemerintah setempat satu dekade silam mengubah lapangan itu menjadi masjid, berbuah blunder. Masjid itu tak kunjung siap, hingga jadi terbengkalai.

Bangunan itu menyisakan bata-bata yang belum di plester, pergantian pemimpin membuat urusan pembangunan jadi kian rumit. Pemimpin baru malah akhirnya menjual tanah itu kepada seorang pengusaha dari kota. Siapa sangka, bangunan itu justru dijadikannya sarana maksiat, semacam teleju. Segala keburukan berkembang di situ. Judi, mabuk-mabukan, transaksi narkoba. Lonte dari berbagai usia datang silih berganti. Puntung rokok dan kondom berserakan di mana-mana.

Bau pesing dan semacam aroma pandan menyeruak setiap orang lewat di situ, padang ilalang setinggi pinggang dibiarkan saja tumbuh, seolah menyamarkan bentuk dan perbuatan manusia di dalamnya, pada ruang-ruang bersekat yang dipenuhi desahan-desahan nikmat.

“Inilah warisan yang ditinggalkan para pemimpin biadab, rusak jadinya.”

“Pantas saja kampung kita selalu kena azab, kita membiarkan maksiat merajalela.”

Suara kegeraman silih berganti diteriakkan beberapa tokoh muda, mereka menyepakati, penghapusan tempat itu dari perbuatan maksiat harus disegerakan.

“Kita harus segera meruntuhkan kembali bangunan itu,” Jundi, tokoh muda yang menjadi Kepala Desa memberi sabda di hari pertamanya dilantik.

***

Jundi merupakan Kepala Desa yang baru saja terpilih, ia menang mutlak dari dua pesaingnya. Salah satunya pemimpin yang dulu menjual tanah itu kepada pengusaha dari kota. Kemenangan Jundi dari pemilihan itu tidak jadi kejutan bagi seisi kampung, meski berusia paling muda, Jundi jelas paling berpendidikan dan punya pengalaman di bidang organisasi semasa kuliah. Ia jebolan S2 di Universitas paling besar di provinsi tetangga. Dengan portofolio serupa itu, Jundi memang digadang-gadang akan melenggang mulus merebut kursi satu di desa itu.

Namun di atas segalanya, harapan semua orang seragam dengan kemenangan Jundi. Ia diharapkan mampu mengembalikan Marwah desa lebih baik. Praktik maksiat itu benar-benar membenamkan identitas kampung hingga ke titik nadir. Cap sebagai kampung maksiat jadi melekat oleh warga sekitar.

Baca juga :   Cerpen : Negeri Tanpa Senyum

Padahal dulunya desa ini terkenal cukup religius, masyarakatnya senantiasa patuh terhadap anjuran pemimpin. Suka bergotong royong dalam membentuk suatu peradaban, orang-orang hidup rukun dan damai. Jauh lagi sebelumnya, pada masa sebelum kemerdekaan, desa ini juga terkenal kuat dihuni laki-laki tangguh. Meski nama mereka tak pernah tercatat dalam kamus pahlawan di Indonesia, para pemuda di desa ini dinilai punya andil dalam mengusir penjajah yang masuk di wilayah sekitar. Mereka dikenal punya keberanian, menguasai ilmu bela diri yang dipelajari pada malam hari di Surau-surau.

Konon, pada salah satu jalan menurun di Lereng Koto, yang saat ini dibangun jembatan gantung di dekat situ. Sekelompok pemuda pernah menguburkan seorang kompeni Belanda yang hendak menguasai wilayah perkampungan. Entah benar, atau hanya sekedar bumbu pemanis cerita belaka, yang jelas itu suatu kebanggaan yang selalu diingat generasi setelahnya untuk merujuk tentang kegagahan masa lalu desa ini.

Tak jauh dari jalan menurun itu, juga ada sebuah masjid yang sudah ratusan tahun usianya. Pemerintah sekarang menasbihkan masjid itu sebagai salah satu masjid tertua di provinsi. Itu juga suatu kebanggaan bagi warganya, karena merujuk kegemilangan Islam masa dulu.

Tapi semenjak bangunan masjid tak jadi itu berubah fungsi jadi tempat tak senonoh, hilang sudah kekaguman orang pada desa ini. Nama baiknya ikut luntur, bagai gugurnya bunga-bunga kuini sehingga tak sempat menjadi putik, yang banyak tumbuh di pinggiran sungai. Dan itu jadi pekerjaan rumah paling besar bagi pemimpin sekarang.

Jundi sedari awal telah memasang target untuk mengakhiri masa kelam itu, itu pula yang menjadi alasan kuat Jundi untuk melaju jadi calon Kades. Ia berharap dengan itu ia punya kekuatan untuk membasmi orang-orang busuk di dalamnya.

Jundi menyadari tugas itu tidak akan mudah direalisasikan, ia tahu ada peran pemerintah di kabupaten atau provinsi sehingga bangunan itu tetap eksis dikunjungi lelaki yang hanya berpikiran tentang selangkangan. Pemerintah jelas mendapatkan keuntungan dengan adanya tempat itu.

“Setidaknya tempat seperti itu memberikan pemasukan pajak yang lumayan besar kepada pemerintah, sehingga mereka tidak berani menutup.”

Baca juga :   Puisi Uzi Fauzi

Jundi pernah menyampaikan itu dalam suatu rapat, untuk menutup tempat itu jelas dibutuhkan pengaruh kepemimpinan dari orang yang besar, dibutuhkan pejabat yang jujur. Sialnya, itu sangat susah dicari. Pemimpin yang banyak berseliweran dalam tatanan negara sekarang ini, justru lebih senang mengikuti alur, lalu yang salah jadi diwariskan pada generasi berikutnya.

“Bagaimana pun juga kita harus menyurati Bupati dalam rangka proses penutupan ini, Pak

Kades,” salah satu stafnya di kantor bersuara.

Jundi paham, dia langsung melaksanakan itu secepatnya, bahkan seminggu kemudian, Jundi malah dengan sengaja menemui Bupati di Kota Kabupaten. Namun seperti prediksinya, usaha itu hanya menemui jalan buntu. Ia juga mencoba meminta bantuan kepada anggota DPR yang dikenalinya. Hasilnya tetap sama, sebagaimana ciri khas birokrasi di Indonesia, setiap urusan selalu berbelit-belit dan payah. Hingga pada suatu titik Jundi berpikir, ia harus merekonstruksi ulang cara menyelesaikan masalah ini.

“Kita tak bisa menunggu pemerintah turun tangan membereskan urusan ini,” ucap salah seorang warga kepadanya.

“Apa yang harus kita lakukan, Pak Kades?” sambung yang lain.

“Langsung saja kita gusur bersama-sama, Pak Kades. Kita bisa sewa alat berat untuk meruntuhkan tempat pelacuran itu.”

Suara-suara penuh emosi itu mendapat sahutan yang meriah dari warga lain, tapi Jundi masih bisa berpikiran sehat, jika itu dilakukan akan timbul masalah baru.

“Tunggu, saya sedang mencari jalan keluar untuk pemecahan masalah ini,” Jundi menenangkan amarah yang kian meledak dalam dada orang-orang.

“Mau cari cara apa lagi, Pak Kades. Semua sudah jelas, tempat terkutuk itu tidak akan tumbang kalau kita tidak beraksi.”

Anggukan setuju kian banyak.

“Kalian harus percaya pada saya, jika saya gagal menutup tempat itu, saya akan menanggalkan jabatan ini. Untuk saat ini kita harus menjauhi tindak kekerasan.”

Pernyataan itu sukses membuat orang-orang terdiam.

“Dua hari lagi, kita berkumpul membahas ini, sementara saya menyiapkan rencana.”

Rombongan akhirnya bubar, meski pada roman mereka terpancar rona kecewa.

Baca juga :   Cerpen: Terlelap dalam Sandaran

***

Jundi tak hafal sama sekali dengan seluk beluk tempat itu, meski setiap berangkat ke kota, ia selalu melewatinya. Namun malam ini, ia sudah mengikrarkan diri untuk melawat, tentu bukan untuk menawar para wanita yang menjajakan diri. Jundi ingin menemui langsung pimpinan di situ.

“Selamat datang, Pak Kades. Senang sekali orang seperti Anda mau main ke sini.”

Sapaan awal yang sangat bersahabat, diiringi dengan tawa dan rangkulan hangat. Begitulah para bos mengakrabkan diri.

“Saya tahu Anda anak muda yang idealis, tapi tentu kita bisa bekerja sama dengan baik,

bukan?

Kalimat yang tegas, itu terlontar setelah basa-basi usai, dan Jundi menyampaikan keinginannya. Jundi melihat penawaran itu sebagai gertakan, sebagai pesan untuk jangan mengganggu bisnis yang sudah mapan ini.

“Saya pikir, Pak Kades pasti bisa bersikap bijak dengan hal ini. Orang-orang di kabupaten saja, bahkan para pejabat gubernur bisa berkompromi. Kalau Pak Kades memaksa, hanya akan buat susah.”

Bagian terakhir diucapkan dengan nada yang pelan seperti berbisik, semacam isyarat jika nekat melakukannya akan sangat berisiko. Jundi mencoba menahan amarah yang menggelegak.

“Nikmati saja, Pak Kades. Saya bisa kasih penawaran yang menggiurkan, bahkan jika mau, Pak Kades boleh datang ke sini kapan saja untuk mencicipi gadis-gadis yang masih ranum. Kita sama-sama…,”

“Bruakkkk…,”

Jundi mendamprat meja, sebelum kalimat itu selesai. Di seberang meja, bos itu terperanjat. Cerutu yang menempel di bibirnya nyaris terjatuh akibat terkejut. Jundi merasa harga dirinya begitu dilecehkan. Tanpa sepatah kata, ia melangkah keluar dengan pandangan nyalang. Bos itu sejenak bengong, tapi menyadari bahwa tak berselang lama akan terjadi perang.

Tanjung, 23 Juni 2020


*Romi Afriadi dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung.

Penulis bisa dihubungi lewat email: romiafriadi37@gmail.com atau akun Facebook Romie Afriadhy.