Puisi Zetira Tilafa

oleh
zetira tilafa
Zetira Tilafa

Memulai yang Selesai

1
Tak pernah  ada kalimat tepat 
Untuk memulangkan kau pada satu alamat
lamat-lamat di dadamu
sudah tak tersemat aku
2
Pada musim penghujan
kesedihan siapa yang mesti dilempar ke perapian? 
perasaan siapa yang mesti dibakar perlahan? 
pelukan perempuan mana yang mesti aku relakan? 
3
Kau perlu ramai untuk damai
aku masih butuh sepi untuk menulis puisi
lalu dengan pelan kau berbisik
“di mana kata mulai dan selesai kau simpan?”

Cianjur,  2019

Di Hadapan Kesedihan

Apa yang mesti kita hidangkan 
di hadapan kesedihan? 
Setelah pukul enam 
apalagi yang akan tenggelam
selain matahari? 
Jarak-jarak itu, kau tahu
telah menghitung lelah langkahmu
Hari-hari damai kini selesai
antara kerlip cangkir dan getir kata “usai” 
Sedang matamu kini kuperam sebelum terpejam
Sebelum kehilangan aku lebih dalam
Aku ingin bayang-bayangku matang
pada ingatan dan kepalamu
Ucapkan beberapa hal yang menenangkan
atau kecupkan saja sebuah ciuman
pada kening dan aku akan tetap hening 
Hari-hari damai kini selesai 
Antara pelukan dan lepasnya genggaman

Baca Juga :   Puisi Tino Watowuan

Cianjur,  2019

Memahat Peristiwa

1
Di hadapanmu aku bercerita
Tentang kerinduan dalam bentuk gorengan
Dan kuah sayur asem
Ketika itu
Riang tak dapat kusembunyikan
Kau pasti sudah menebak
Bahkan kau pandai memiara pikiran-pikiran
Di kepalaku
Lelaki itu, Mah
Belum pernah aku sejatuh ini
Ah, kau pun pasti sudah tahu
Sebab saban hari
Aku memolek diri
Ingin jadi sempurna untuk dia
Tapi aku tak pernah bisa
Tenang saja Mah
Sakit perut bisa sembuh
Meski perih setelahnya bikin susah berjalan
Aku ingin makan nasi dengan sambal
Bersama manisku itu

Baca Juga :   PUISI : Zetira Regi Tilafa

2
Minggu sore
Kau datang ke kamar
Dengan senyum lebar
Lalu berkata “ini pesananmu..”
Sebungkus gorengan kacang
Telah menanam kenangan
Di halaman mataku
Menjelma isak serta sesak
Mah, beri beberapa pelukan
Dan biarkan aku memeram tangis satu malam
Agar bisa menelan kesedihan
Agar kepergian bisa dengan mudah kurelakan

3
Mah, kau ialah teduh
Bagi terik luka-luka
Jangan dulu menua
Aku belum dewasa

Baca Juga :   Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Cianjur, 2019

*Zetira Tilafa, lahir di Tasikmalaya, 01 Januari 1997.
Lulusan Strata satu di perguruan tinggi Universitas Suryakancana, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Puisi-puisinya terbit di sejumlah media cetak dan buku Antologi Puisi bersama. Bergiat di Komunitas Warung Apresiasi Sastra dan Ruang Sastra Cianjur (RSC). Kini bekerja sebagai Guru SMK Bunga Persada Cianjur.