Cerpen: Terlelap dalam Sandaran

oleh -
cerpen-ibrahim-guntur-nuary
Ibrahim Guntur Nuary

Oleh: Ibrahim Guntur Nuary*

Genggaman hangat tanganmu masih terasa hingga sekarang, aku masih saja tidak menyangka semuanya terjadi begitu cepat. Aku masih bisa merasakan ada dirimu disini menemani, namun semuanya hanya bayang semu yang tidak berlandaskan apapun. Empat hari yang lalu masih tetap sama. Aku mengantarkan Ratna pulang ke rumahnya setiap hari, tidak ada yang aneh dari sikapnya, bahkan ia nampak ceria sekali karena aku memberikannya sebuah kejutan yang ia inginkan selama ini. Sebuah sepatu berwarna putih dan biru, dengan gambar kartun yang ia mau.

“Makasih yah mas, udah ngasih kejutan ini” memandangi sepatu dengan wajah imutnya.

“Iyah neng, aku tau kamu mau sepatu itu udah lama banget” sambil mengelus rambutnya yg lurus.

“Aku suka banget sama warna dan gambarnya, aku akan pake sepatu ini kalo jalan sama kamu” memeluk sepatu kesayangannya.

“Pasti kamu akan tambah anggun dengan sepatu itu” membayangkan Ratna menggunakan sepatunya.

“Iyah dong mas, tidak pakai sepatu saja sudah anggun, apalagi pakai sepatu ini, pastinya tambah anggun dan cantik.

Setelah berbincang di depan rumahnya, aku menyuruh Ratna untuk masuk ke rumahnya karena hari semakin malam. Setelah melihat ia menutup pintu rumahnya dari dalam, aku segera pergi dengan motor antikku. Ratna seorang yang sangat low profile, ia tidak pernah komplen dengan apa yang aku punya dan ia tidak pernah membuat hal-hal yang aneh selama kita berhubungan. Kerap kali aku diceramahi olehnya mengenai penampilanku yang terbilang cukup keren, Ratna tidak ingin melihatku dengan tampilan yang sangat modis, khawatir aku diambil oleh orang lain.

Baca Juga :   Puisi Maulidan Rahman Siregar

“Mas, kamu kalau pakai baju jangan terlalu bagus, nanti kalo kamu diambil bagaimana?” tanyanya risau sambil memutar bola matanya.

“Santai saja, aku adalah milikmu seorang” menggenggam tangannya dan mengelusnya.

“Iyah mas, aku percaya itu” Ratna langsung memeluk diriku.

Disuatu siang, aku mengajaknya untuk makan siang dan berbelanja kebutuhan bulanan. Ia sangat telaten memilih kebutuhan bulanan untuk diriku, bagiku yang terpenting adalah sabun dan beberapa bungkus mie instan. Tapi Ratna mengambilkan banyak barang yg dianggapnya penting untukku, lalu dimasukkannya ke keranjang. Ketika aku menengok ke keranjang belanjaanku, aku melihat Ratna menggunakan sepatu yang aku belikan, betul katanya, ia akan terlihat sangat anggun dengan sepatu barunya itu, ditambah lagi baju dan celana yang ia gunakan sekarang, sangat cocok dengan sepatunya.

Setelah selesai berbelanja, ia mengajakku makan siang bersama disebuah warteg langganannya, yg ia bilang adalah warteg yang sangat enak. Ratna selalu makan dengan lauk yang serba pedas, melihatnya makan sepertinya aku ingin pingsan. Mungkin jika aku makan pedas juga akan pingsan di warteg dan membuat repot Ratna, makanya aku memilih untuk memilih lauk yang tidak ada sambelnya, alias seperti makanan bayi. Sesekali Ratna tersedak karena pedasnya lauk yang ia pilih, aku disitu agak kesal, aku sudah pernah bilang untuk tidak terlalu banyak makan-makanan pedas, nanti akan bahaya untuk kedepannya.

“Udah dong, jangan makan pedes lagi yah, nanti keselek lagi gimana?” mengelap sambal yg tersisa di bibir Ratna.

“Enak mas, aku gak bisa makan kalo enggak ada sambel” menyuap kembali.

Baca Juga :   Puisi Fahrus Refendi

“Iyah boleh makan sambel, tapi jangan banyak-banyak yah”mencubit pipinya yang chubby.

“Auuuww………..sakit tau” sambil menepak tanganku

“Abisnya kamu bandel sih” senyumku padanya.

Di sore harinya, aku mengantarkan Ratna pulang kerumahnya, hari ini aku dan Ratna tidak pulang malam karena aku tiba-tiba tidak enak badan sehabis makan dari warteg langganannya. Ratna mulai khawatir dengan keadaanku karena aku sendirian di tempat kost. Aku tidak masalah sendirian disini, asalkan ada obat yang selalu aku siapkan jika aku tidak enak badan. Aku berharap ini hanya meriang biasa dan biasanya seperti itu. Aku mengalihkan semua pikiranku mengenai virus korona yang sedang viral belakangan ini. Aku langsung meminum obat yang biasa ku minum, untungnya obat ini sangat ampuh dan membuat badanku kembali sehat.

Di hari minggu, Ratna mengundangku untuk makan siang bersama di rumahnya dengan orangtuanya juga. Semuanya terlihat seperti biasa saja, aku datang pukul 10 pagi, dengan membawa cokelat untuknya. Ratna terlihat anggun hari itu dengan uraian rambutnya yg hitam dan dikuncir, baju pinknya yang lucu dengan motif gambar kartun, dan juga celana leggingnya yang bagus. Ia sangat senang menjamuku dengan tampilan yang anggun.Pukul 12 siang, aku dengan keluarga Ratna makan bersama, masakan ibunya sangat enak sekali, aku sering sekali dibawakan lauk oleh Ratna, karena ia tahu pasti anak kos-kosan sepertiku akan kurang makan. Keluarga Ratna sangat harmonis dan juga hangat, aku seperti berada di keluargaku sendiri. Aku sangat beruntung memiliki Ratna dan juga dekat dengan orang tuanya.

Setelah selesai makan siang bersama, ketika sedang asyiknya mengobrol dengan orang tuanya Ratna perihal hubungan aku dengannya kedepan, tiba-tiba Ratna menyenderkan kepalanya di pundakku dengan mata terpejam, tidak biasanya ia begini. Ketika kusenggol pipinya dengan lembut agar bangun, namun tidak ada jawaban darinya.

Baca Juga :   Puisi Ujang Saefudin

“Na, na, na, bangun dong, kan lagi ngobrol” menepuk pipinya “Jangan becanda dong, bangun yah” ucapku lagi khawatir.

Tidak ada jawaban sama sekali dari mulutnya, aku melihat kejanggalan padanya, segera kuhadapkan badanku padanya, ternyata Ratna tidak sadarkan diri. Aku dan orang tuanya panik, bergegaslah kami membawa Ratna ke rumah sakit terdekat, diperjalanan menuju rumah sakit, ku genggam tangannya erat sambil berdo’a agar Ratna tidak apa-apa, sesampainya di rumah sakit, Ratna langsung dilarikan ke ruang UGD.Petugas medis dengan APD lengkap langsung menangani Ratna yang tidak sadarkan diri. Setelah menunggu kepastian dari dokter yang menangani Ratna selama satu jam, ternyata Ratna positif covid-19 dan dinyatakan meninggal dunia. Aku hancur sekali mendengarnya, kemungkinan besar yang menularkan virus itu aku, karena kemarin aku mendadak tidak enak badan dan aku tahu bahwa Ratna memang imunitasnya lemah.

Aku hanya bisa menangis sesenggukan sambil berharap ini hanya mimpi, namun nyatanya memang benar-benar terjadi. Siang itu juga Ratna dikebumikan dengan protokol kesehatan, aku tidak bisa melihat senyumnya lagi untuk terakhir kalinya. Hal ini sangat membuatku kaget dan tidak percaya dengan kenyataan, seakan-akan yang maha kuasa tega mengambilnya dariku. Semuanya telah terjadi, kini aku hanya bisa melihatnya dari foto yang ku cetak seminggu lalu dan foto-fotonya di handphoneku.(**)

*Penulis adalah Kolumnis Media Massa Nasional

No More Posts Available.

No more pages to load.