Puisi Muhammad De Putra

oleh -
Muhammad De Putra
Muhammad De Putra

Muhammad de Putra, Penyair muda asal Pekanbaru Riau. Bergiat di COMPETER (Community Pena Terbang) dan Komunitas Seni Rumah Sunting. Puisi-puisinya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Penggagas “Mari Berdiskusi Untuk Esok Hari” dan Forum Literasi Remaja Riau. Penulis buku Anak dari Hulu, Kepompong dalam Botol dan Hikayat Anak-Anak Pendosa.

Tepian Buluh Cina

Di tepian Buluh Cina yang tenang dan menusuk kulit-kulit betis,
kau kabarkan tentang lelah panjang dari perjalanan sebatang Sialang
yang mengalir hingga ke hilir.

Sepasang kekasih dari kota
telah berpegangan tangan untuk menyeberang
dan menjemput banyak jejak kenangan
lewat jalan-jalan berlubang.

Baca Juga :   Puisi Adnan Guntur

Sebuah pantai perlahan-lahan hilang
dan meninggalkan telapak kakimu,
menginjak tahi sapi,
menginjak rumput -dengan kupu-kupu hinggap
mencari tawa seorang bocah
yang kehilangan ibunya-,
menginjak sisa darah sembelihan ikan Gabus
yang baru saja diangkat dari nelayan-nelayan.

Di tepian Buluh Cina, kau terduduk
dan masih mengabarkan tentang kotamu yang berkabut
dan mulai menenggelamkan seluruh cerita dari perjumpaan ayah-ibu.
Air matamu jatuh, membasahi akar pohon mangga
yang menopang lelah punggungmu. Aku diam terpaku,
para anak-anak desa telah berlompatan di dermaga
dan berenang membelah sungai Kampar.

Baca Juga :   Puisi Faris Al Faisal

Aku mengenang masa lalu.
Aku membayangkan tubuh basah kuyupmu
telah membuyar gigil: setelah kau menyelam
untuk membawa pulang tubuhku yang tenggelam.

Dan kau datang lagi ke tepian Buluh Cina,
menunggu aku mengapung

sembari bercerita tentang apa saja.

2020

Menuju Hari Minggu

Malam ini, seorang anak malang berjalan pincang
menuju sebuah rel di stasiun kereta api bawah tanah.
-Kedinginan dan telanjang kaki-

Sebuah tukak menjalar ke penjuru tubuhnya
dan angin dari terowongan
-sebuah kabar untuk Tuhan.

“Kota sedang menangis.
Dan orang-orang belum juga pulang
libur panjang yang diciptakan
dari omong kosong dan lelah tak tertahan.”

Baca Juga :   Penyair Indonesia Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia

Malam ini,
seorang anak malang akan pergi jauh.
Sendirian.
Tak berarah.

Seseorang memintanya pulang.

2020

Nelayan Muda

*
Angin dari selatan telah datang
bersama ikan-ikan terbang
dan sebuah teriakan meriam ke arah langit.

Seorang nelayan muda
akan berlayar untuk pertama kalinya,

Perlahan-lahan menciptakan surga.

*
Jam 5 pagi
dengan salak anjing dan terompet mercusuar.

Ombak tak mengamuk
Gelombang belum pasang.
Namun seorang mayat anak
telah berlutut menyerah ditepian laut.

Tak tertarik untuk berlayar.