BI Sudah ‘Cetak Uang’ Rp 500 Triliun Lebih, Ini Dia Penjelasannya

oleh -

Jakarta, –– Bank Indonesia (BI) belakangan ini didorong untuk mencetak uang guna menanggulangi pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat perekonomian Indonesia merosot.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (5/5/2020) pekan lalu melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2020 sebesar 2,97% secara year-on-year (YoY), jauh merosot dibandingkan triwulan sebelumnya 4,97% YoY, sekaligus menjadi terendah sejak triwulan IV-2001.

Tidak hanya Indonesia, nyaris semua negara mengalami hal yang sama, bahkan negara dengan perekonomian terkuat di muka bumi, Amerika Serikat, mengalami kontraksi alias minus 4,8% di triwulan I-2020.

Pandemi Covid-19 yang membuat negara-negara mengambil kebijakan karantina wilayah (lockdown), atau di Indonesia kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti. Maka tidak heran jika pertumbuhan ekonomi merosot tajam.

Baca juga :   Mungkinkah Positif “Lagi” COVID-19, di Gelombang Kedua?

Guna menanggulangi hal tersebut, BI didorong untuk mencetak uang hingga Rp 600 triliun oleh Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (Banggar DPR RI). Menurut Ketua Banggar DPR RI dari Fraksi PDIP Said Abdullah, usulan itu masuk akal, terutama dari sisi inflasi yang kerap kali dikhawatirkan.

“Kalau cetak uang Rp 600 triliun kemudian seakan-akan uangnya banjir, tidak juga. Htungan kami kalau BI cetak Rp 600 triliun, itu inflasinya sekitar 5-6%, tidak banyak. Masa Rp 600 triliun tiba-tiba inflasi akan naik 60-70%? Dari mana hitungannya,” kata Said dikutip dari detik.com, Kamis (7/5/2020).

Baca juga :   Waspada Corona, Anies Imbau Jamaah Shalat Jumat Bawa Sajadah dan Tak Jabat Tangan

Kebijakan mencetak uang oleh bank sentral tersebut disebut dengan Modern Monetary Theory (MMT) yang saat ini pembahasannya tengah menghangat di dunia akibat pandemi Covid-19.

Menanggapi isu tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya sudah mengatakan pencetakan uang untuk menambah likuiditas tidak tepat dilakukan. “Pandangan-pandangan itu tidak sejalan dengan praktek kebijakan yang lazim, bukan praktik kebijakan moneter lazim, dan tidak akan dilakukan di BI,” ujar Perry saat memaparkan Perkembangan Ekonomi Terkini, Rabu (6/5/2020) pekan lalu.

Baca juga :   Gubernur Jabar Ridwan Kamil Gelontrokan Rp16 Triliun untuk Tangani Corona

Gubernur Perry sudah secara tegas menyatakan tidak akan mencetak uang, bahkan MMT sendiri sudah banyak ditentang oleh tokoh-tokoh finansial dunia termasuk ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell.

Cetak uang oleh bank sentral sebenarnya bukan hal yang baru, pada awal tahun 2019 lalu di AS sudah muncul diskusi agar The Fed menerapkan MMT. Powell saat itu menyatakan MMT adalah suatu hal yang salah.