Puisi Tino Watowuan

oleh -
Tino Watowuan

Pada Akhirnya

Pada akhirnya kau akan mengerti
makna di balik semiotika musim
Jika matahari itu kebahagiaan
lalu hujan adalah kesedihan
kau hanya bisa merima keduanya
agar dapat melihat warna pelangi

(Kb, 4 Maret 2020)

Angelus

Pukul enam sore
suara-Nya merambat bening
pada denting lonceng gereja
Mengantar kabar, juga tanda
di kening masing-masing

Baca Juga :   Puisi Faris Al Faisal

Salam, bagimu Maria
“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah
padaku menurut perkataanmu”
Amin

(Kb, 5 Maret 2020)

Laron Mencari Cahaya

Kita segerombolan laron-laron itu
beterbangan mencari cahaya
yang menggantung di rumah-rumah
di jalan raya, di mana saja kita temui

Penuh sekuat daya upaya
sesak mendesak di gerbong waktu
ada sayap-sayap yang getas
lalu luruh memeluk takdir
pun ada yang bangkit setelah jatuh

Baca Juga :   PUISI : Zetira Regi Tilafa

Bila tak ada cahaya yang menyuluh
penuh seluruh pengembaraan
kita tak jadi apa-apa, bahkan tiada

(Kb, 2 Maret 2020)


Tino Watowuan, lahir dan tinggal di Pulau Adonara, Flores Timur, NTT. Beberapa puisinya pernah dimuat di Flores Pos cetak dan online, Majalah Simalaba, Jongflores.com, Elkotha.com, Nalarpolitik.com, Horizondipantara.com, Weeklyline.net, Rumah Baca. ID, dan di Penakota.id.

Baca Juga :   Sastrawan Felix K Nesi Pemenang Novel DKJ 2018 Ditangkap Polisi