Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

oleh -
Muhammad Asqalani eNeSTe

Curut

selamat pagi tuan, dasi.
kulihat mulutmu sudah sedemikian basi melumat janji
liurmu adalah kebohongan yang berkubang keji
liat, kami tinggal di got menghidupi nyeri
kami berhela nafas di antara sampah dan tahi

selamat pagi tuan, dasi
kami adalah curut yang telah bosan menunggu sensasi
mulutmulut kami yang runcing, akan setajam cacimaki
di mulut kami, doa sebagai teraniaya begitu api sekali
percayakah kau? pada pengujung nafas kau akan membabi
dan kami akan menjadi curut yang suci, mencuci dasi.

Baca Juga :   Kepulauan Riau Diserang Para Penyair dari Berbagai Negara di Asia Tenggara

2013

Yang Diikat Pada Tiang-tiang

Yang diikat pada tiang-tiang. Kepalamu kering ilalang. Api dari panas seribu matahari datang. Membakar hingga kau leleh, lebur, utuh lagi, dibakar lagi hingga leleh, lebur, utuh lagi, leleh-lebur-utuh-bakar-leleh-lebur-utuh-bakar-l-l-u-b. Begitu berkepanjangan, tak terkatakan. Kau tak sempat menangis, kau tak mampu menjerit.

Pekanheran, 29 Februari 2020

Momentum

Dia tak lagi di sini, pergi ke tengah laut tak bertepi, menenggelamkan diri, tapi maut menepis, tak ingin dia jadi riwayat tragis, yang menciptakan lubang tangis hitam ke langit setiap kelam.

Baca Juga :   PUISI : Ujang Saepudin

Tirai-tirai sesal terkuak, lusuh dan nyaris runtuh kini terang. Harapan bak tiang gantungan berisi baju-baju badut.

Segala yang tersisa adalah dadu yang dikocok ulang, diundi tak berpengabisan, sementara jam nun di tarikat darah, terikat janji pedang untuk tumpul dan tak mampu menebas!

Terkutuklah kebenaran yang dibohongkan!

Kapanikah, 19 April 2019


Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran, Paringgonan, 25 Mei 1988. Puisi-puisinya pernah tersiar di berbagai media cetak nasional dan lokal, serta daring. Juara 2 Duta Baca Riau 2018. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Mengajar Bahasa Inggris di Smart Fast Education dan Edwar Course & Private serta menjadi CEO Kelas Puisi Online, Asqa Imagination School (AIS). 1 Januari 2019 buku puisinya berjudul “doksologi” memenangkan Sayembara Buku Fiksi, Komunitas Menulis Pontang – Tirtayasa (Komentar).

Baca Juga :   PUISI : J. Akid Lampacak