Revolusi Industri 4.O dalam Perkembangan Sosial di Indonesia

oleh

Oleh : Paisal Anwari

Manusia pada hakikatnya merupakan sebuah makhluk sosial (zoon politicon) yang tak akan pernah bisa lepas dari “komunikasi” baik secara langsung maupun melalui isyarat tertentu. Dengan adanya revolusi industri 4.0 masyarakat Indonesia sudah mulai menggunakan berbagai macam teknologi yang semakin mudah untuk di akses untuk kehidupan sehari-harinya, baik dalam berkomunikasi, mencari informasi, bahkan untuk sekedar mencari sensasi.

Revolusi industri gelombang ke empat, yang juga disebut industri 4.0, kini telah tiba. Industri 4.0 adalah tren terbaru teknologi yang sedemikian rupa canggihnya, yang berpengaruh besar terhadap proses produksi pada sektor manufaktur. Teknologi canggih tersebut termasuk artificial intelligence (AI), e-commerce, big data, fintech, shared economies, hingga penggunaan robot. Istilah industri 4.0 pertama kali diperkenalkan pada Hannover Fair 2011, yang ditandai dengan revolusi digital.

Baca Juga :   Terharu, Ini Dia Para Pemuda Cianjur yang Mengabdi di Tengah Pandemi Covid-19

Bob Gordon dari Universitas Northwestern, seperti dikutip Paul Krugman (2013), mencatat bahwa sebelumnya telah terjadi tiga revolusi industri. Pertama, ditemukannya mesin uap dan kereta api (1750-1830). Kedua, penemuan listrik, alat komunikasi, kimia dan minyak (1870-1900). Ketiga, penemuan komputer, internet dan telepon genggam (1960 hingga sekarang).

Versi lain menyatakan bahwa revolusi industri ke tiga dimulai 1969, melalui munculnya teknologi informasi dan mesin otomasi. Sebagaimana tiga revolusi industri sebelumnya, kehadiran industri 4.0 juga diyakini bakal menaikkan produktivitas. Survei McKinsey (Maret 2017) terhadap 300 pemimpin perusahaan terkemuka di Asia Tenggara menunjukkan, bahwa 9 dari 10 responden percaya terhadap efektivitas industri 4.0. Praktis hampir tidak ada yang meragukannya. Namun ketika ditanya apakah mereka siap mengarunginya, ternyata hanya 48 persen yang merasa siap. Berarti, industri 4.0 masih menyisakan tanda tanya tentang masa depannya.

Baca Juga :   Tinta Inspirasi: Antara Omnibuslaw dan Kemerdekaan di Pertanyakan?

Keraguan ini sejalan dengan yang ditulis Krugman (“A New Industrial Revolution: The Rise of the Robots”, The New York Times, 17/1/13), bahwa pengunaan mesin pintar memang bisa meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB). Namun pada saat yang sama, hal tersebut sekaligus juga dapat mengurangi permintaan terhadap tenaga kerja, termasuk yang pintar sekalipun. Namun, semua hal itu tidaklah akan terjadi seketika, ada tahapannya. Selama proses panjang itu terjadi, perdebatan akan terus berlangsung. Akibat pengaruh yang besar dari revolusi industri 4.0 Maka mengakibatkan beberapa dampak dalam kehidupan sosial baik itu dampak positif maupun negatif.

Baca Juga :   HMI Cabang Cianjur Tolak RUU KPK

Dalam perkembangan sosial di Indonesia, peran pemuda/i khususnya mahasiswa yang mempunyai peran sebagai agent of change, social control, dan juga iron stock. Kita memiliki peran fundamental dalam perwujudan negara sejahtra dan modern bahkan Indonesia harus siap menghadapi gelombang pasca-moderm. Negeri ini harus memaksimalkan produktivitas karya bangsa dengan teknologinya serta menjawab probematika sosial khususnya kesejahtraan masyarakat Indonesia, karena kita akan bersaing secara teknologi dengan negara-negara lain, dan pada zaman ini Theory Of Power atau ekspansi tidak dilakukan secara perang didunia nyata, namun sudah mulai berganti kepada dunia teknologi. (*)