PUISI : J. Akid Lampacak

oleh -
J. Akid Lampacak

Dua Rokaat Menjelang Pagi

Keutamaan yang berada di dasar sunyi
Merupakan dua rokaat menjelang pagi
Kau tak kan pernah menyadari
Bahwa zikir-zikir mengandung rezeki
Kau hanya bisa mengumpamakan
Dan selebihnya melaksanakan
Agar semua yang diragukan
Jatuh menyusuri keyakinan.

Sampang, 2019

Merawat Sabar

Walau tujuh amarah
Telah melukis warna gelisah
Bahkan menjadi teman
Di sepanjang siang dan malam
Tapi ayat suci masih terkenang
Segalanya pasti terjangkau
Hingga derita lelah dan risau.

Sampang, 2019

Silsilah Jarak

a/
Di sepanjang tatapan
Kita hanya menggenggam gagang
Untuk dicarikan sumber mata kehidupan
Di dasar kemarau yang masih anyar kita dengar

Baca Juga :   PUISI : Ujang Saepudin

b/
Namun, keselahan terpelik bagi hujan
Adalah kebenciaan yang melecehkan perasaan
Dan kita masih saja berpura-pura
Di pusat waktu yang mengalirkan cahaya.

c/
Barang kali benar, rahasia yang diburu oleh rindu
Begitu pandai mengatur waktu, menghapus jejak di masa lalu
Dengan beragam bisu yang hampir jatuh di ujung jemarimu.

d/
Lalu aku seperti tersesat di selat mawar
Ingin sekali-kali menidurkan mimpi
Tapi malam selalu sembunyi,
Sembunyi di perlintasan dingin dan sunyi
Entah kepada siapa kita akan bernyanyi
Untuk memanggil datangnya pagi.

Sampang, 2019

Baca Juga :   Cerpen : Seperti Cinta, Dendam Harus Dibalas

Sepotong Mimpi Di Kepala Anjani

Anjani.
Jadi benar, apa yang dikilaukan matahari itu adalah suci.
Aku semakin tidak mengarti, ketika perlembahan
Di belakang ladangku kau curi, dicuri untuk membeli
Hadiah ulangtahun anak kita, menjelang mata kita
Terpejam selama-lamanya. Masih kuingat siang hari
Yang mengikat segala sunyi, engkau seperti lebih suka
Bertanya-tanya pada semista, tentang keistimiwaan
Segala tawa, akankah? Menunjukkan hal yang sempurna
Jika kedatangan pagi hanya menguburkan bergam pesona.

Anjani.
Kita tau, berapa simbang diperlukan untuk menulis puisi ini
Bayang-bayang yang datang sebagai perteduhan, menimbulkan
Perang di antara gelap dan terang. hanya terang, ketika petang
Menguncup di dasar lamunan, kita seperti mennyisir rambut hujan,
Dan pada langkah yang kesekian, kita terjebak di jalan pulang.
Entah. Selesai ini kita mau apa? Akankah kita kembali berbicara?.
Untuk Mendiskusikan kelahirran embun di rahim doa.

Baca Juga :   Sajak-sajak Muhammad Sulaiman Fauzi

Sampang, 2019


J. Akid Lampacak, Biasa dipanggil BJ. Akid. Lahir di Madura, Jawa Timur. Menulis Cerpen dan Puisi, masih tercatat sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah. Puisi-Puisinya telah tersiar di berbagai media. Menjadi ketua Komunitas Laskar Pena Lubangsa Utara dan Pengamat Litrasi
di Sanggar Becak Sumenep.