PUISI : Ujang Saepudin

oleh -
Ujang Saepudin

Di Kota Tembang

Tiap derung lonceng dibunyikan 
aku selalu gagal menangkap nasib 
Nasib seperti mutiara di tangan seorang gadis 
maka perlu sedikit pandai beretorika 
untuk mengubah arah kehendak 

meski begitu kadang aku menyerah 
pada ketakutan sendiri 
kini aku akan pulang 
tak banyak yang kubawa 
hanya sedikit kesedihan 
untuk membuka kembali 
ingatan yang tersesat di jalan padat 

tiap bedug dipukul azan berkumandang 
hanya ada satu yang benar di hati 
sesaat memaknai setiap kepulangan 
dan saat segalanya begitu jauh 
aku pun membenarkan diri 
bahwa semestinya kita tak hanya
  
sekedar bertegur sapa berpapasan 
tanpa mengenal satu sama lain 
kota ini jadi asing bagiku 
di mana selalu kurasakan 
panas membakar di bawah pohon teduh 
burung-burung terbang 
masuk pintu keluar pintu 
masuk gang keluar gang 
dan rindu, cinta, dendam, kecewa jadi hujan petang 
di wajah-wajah yang lisut 

2019

Kembang Api

orang-orang tak dikenal
menyalakan malam
bulan mengambang di atas kolam

Baca Juga :   Puisi Sahaya Santayana

dan mungkin di lorong itu
nyala kita padam
mataku menekuri seribu bohlam
yang berjajar di pagar

kisah baru akan diputar
korsel pasar malam
seribu bintang pecah dini hari
angin mengusik pikiran

di balik pintu kota
memori persis seperti paku
karat yang mengerang
hanya kecup dan peluk
semakin kencang

2019

Baca Juga :   Kepulauan Riau Diserang Para Penyair dari Berbagai Negara di Asia Tenggara

Tangis Taman Minggu

bulan putih di langit putih

tali balon gas putus

lepas dari sulur tangan

menjauh seperti angan

 

sambil menatap balon gas

yang berjalan ke langit

ia mengerahkan hujan pelan

dengan tangis keras

 

matahari memberi pelukan

menyusut lelehan kesedihan

“yang kabur dari sulur tangan

  adalah keikhlasan.” Tambatnya.

Kasih sayang bagai angin pelan

Menangkal nyala api

 

Matahari tersenyum

Membawa kenangan jauh

Tak dapat dibawanya kembali

Pada keramaian ia berlari

matahari menuntun harapannya

Baca Juga :   Cerpen : Asal Muasal Boneka Tidak Punya Hati

 

ia menunjuk angsa kecil

Yang bergerak tanpa terbang

Seperti ingin membalas tangis kehilangan

Dengan lupa ia kenali

Memori yang melanglang pergi

 

Cianjur, 2019


Ujang Saepudin, Lahir di Cianjur 05 Juni 1996. Sekarang tinggal di Cipanas, Kp. Rarahan RT. 04/RW 08 Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Suryakancana Cianjur. Beberapa puisi dimuat di harian Pikiran Rakyat, Harian Waktu,  antologi bersama HPI Riau 2018, Kunanti di Kampar Kiri, Antologi Puisi Pestival Seni Multatuli Lebak Banten 2018. Antologi bersama Festival Sastra Internasional Gunung Bintan. Aktif di Ruang Sastra Cianjur (RSC).